



Pagi itu, Selasa 28 Oktober 2025, halaman sekolah dipenuhi barisan peserta didik bersiap melaksanakan apel Sumpah Pemuda. Udara pagi yang cerah menyambut upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97. Sejak pukul 07.30, persiapan apel telah dimulai dengan dipimpin oleh Pramudya dari kelas 12 sebagai Pemimpin Apel, yang dengan sigap memastikan setiap barisan berdiri tegak dan khidmat.
Tepat pukul 07.37, Pemimpin Apel memasuki lapangan dan mengambil posisi. Dua menit kemudian, Pembina Apel, Pak Jimi, memasuki lapangan. Pramudya pun melaporkan kesiapan peserta apel dengan tegas dan jelas. Suasana semakin khusyuk ketika Hibrizi dari kelas 9 membawakan ayat suci Al-Qur’an.
Afif dari kelas 8 memimpin pembacaan Ikrar Sumpah Pemuda. Seluruh peserta apel mengikuti setiap kata dengan penuh penghayatan: “Kami putra dan putri Indonesia…” Suara lantang yang menyatu itu seolah menggema hingga ke langit pagi, mengingatkan kita bahwa 97 tahun lalu, para pemuda berani mengikrarkan persatuan untuk masa depan Indonesia.
Pada pukul 07.45, giliran Pak Jimi menyampaikan amanat yang inspiratif. Beliau mengajak seluruh peserta apel untuk merenungkan kembali makna di balik tanggal 28 Oktober 1928—sebuah hari yang mengubah arah sejarah bangsa.
Pak Jimi menjelaskan bahwa pada 27-28 Oktober 1928, Jakarta menjadi saksi pertemuan bersejarah. Pemuda-pemuda dari seluruh penjuru nusantara—Yong Java, Yong Sumatera, Yong Celebes, hingga Yong Ambon—berkumpul dalam satu ruang. Mereka datang dengan latar belakang yang berbeda, dari 30.000 suku bangsa dan ratusan ribu bahasa daerah yang ada di Indonesia.
“Mereka berkumpul bukan untuk merdeka secara cepat,” jelas Pak Jimi, “karena jarak antara 1928 hingga kemerdekaan 1945 masih sekitar 17 tahun. Tapi mereka berkumpul untuk merumuskan satu tujuan yang lebih fundamental: persatuan.”
Yang membuat Kongres Pemuda II begitu istimewa adalah keberanian para pemuda untuk melepaskan kebanggaan kedaerahan masing-masing. “Bayangkan,” ujar Pak Jimi, “setiap daerah sebenarnya punya kebanggaan tersendiri dan bisa saja memilih merdeka sendiri. Orang Ambon dengan Sulawesi pasti menginginkan kemerdekaan untuk daerahnya masing-masing.”
Tanpa Sumpah Pemuda, perlawanan terhadap penjajah akan tetap terpecah-pecah. Sulawesi melawan Belanda dan Portugis sendiri, Ambon berjuang sendiri, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat masing-masing ingin menjadi negara tersendiri. “Perlawanan yang terkotak-kotak seperti itu tidak akan pernah cukup kuat,” tegas Pak Jimi.
Pak Jimi kemudian menguraikan makna mendalam dari ketiga ikrar Sumpah Pemuda:
“Bertanah air yang satu, tanah air Indonesia”
Ikrar pertama ini menegaskan bahwa perlawanan terhadap penjajah harus dilakukan atas nama satu tanah air: Indonesia. “Bukan lagi Jawa melawan sendiri, bukan Sulawesi berjuang sendiri, tetapi Indonesia yang bersatu,” jelas Pak Jimi.
Ikrar kedua menyatukan ribuan suku bangsa. Pak Jimi memberikan contoh konkret: “Di Jawa Timur saja ada berbagai suku—suku Jawa yang terbagi lagi menjadi Jawa Mataraman dan lainnya, Madura, Osing, Tengger, dan masih banyak lagi. Bayangkan kompleksitas di seluruh nusantara!”
Para pemuda memilih melepaskan primordialisme—fanatisme terhadap suku sendiri—demi identitas yang lebih besar: bangsa Indonesia. “Kalau masih mengagungkan suku sendiri, kita mungkin tidak akan pernah merdeka, atau kemerdekaan hanya menunggu ‘pemberian’ dari Belanda seperti yang dialami beberapa negara tetangga kita,” tambah Pak Jimi.
Dari ribuan bahasa yang ada, dipilihlah Bahasa Indonesia. Alasannya sederhana namun revolusioner: Bahasa Indonesia tidak mengenal stratifikasi sosial yang rumit. “Tidak seperti bahasa Jawa yang menggunakan kromo inggil untuk berbicara dengan guru, atau bahasa daerah lain dengan tingkatan serupa, Bahasa Indonesia menyederhanakan komunikasi. Yang tua dan yang muda bisa berbicara setara,” jelas Pak Jimi.
Mengakhiri amanatnya, Pak Jimi menekankan bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa masa lalu yang perlu dihafal. “Ini adalah motivasi bahwa pemuda bisa melakukan apa saja. Tanpa Sumpah Pemuda, Indonesia tidak akan merdeka.”
Bagi para pelajar Muhammadiyah dan generasi muda saat ini, Sumpah Pemuda adalah pengingat bahwa persatuan membutuhkan pengorbanan—pengorbanan ego, kebanggaan kelompok, dan kepentingan sempit—demi tujuan yang lebih besar.
Pukul 07.55, apel memasuki sesi penutup. Doa dipanjatkan bersama, dipimpin oleh petugas yang khusyuk memohon keberkahan dan kekuatan untuk menjaga persatuan Indonesia. Tepat pukul 08.00, apel resmi ditutup. Para peserta membubarkan diri dengan membawa pulang pesan yang kuat: Indonesia bukan hanya tentang tanah air, bangsa, dan bahasa—Indonesia adalah tentang kita semua yang memilih untuk bersatu.
Seperti pesan Pak Jimi di penghujung amanatnya: “Fastabiqul khairat—berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
Tim Jurnalistik SMP Muhammadiyah